Prinsip Akuntansi sebagai Dasar Pencatatan dan Pelaporan

Dari setiap proses pencatatan maupun pelaporannya, akuntansi memberikan beberapa prinsip-prinsip dasar yang menjadi pedoman utama dalam penyusunannya. Keakuratannya menjadi mutlak dapat dinilai dengan sempurnya.  Agar hal tersebut dapat terlaksana dengan baik maka dibuatlah penyeragaman prosedur akuntansi dari setiap pemakainya (badan maupun perseorangan) yang biasa disebut dengan Prinsip-prinsip Dasar Akuntansi (prinsip akuntansi) yang Bertema Umum (PABU).

Disiplin Ilmu akuntansi merupakan suatu bidang ilmu yang sangat dinamis dimana dapat disesuaikan dengan berbagai perubahan berbagai keputusan akuntansi serta perubahan perkembangan teknologi termasuk teknologi IT seperti perubahan-perubahan kebijakan perekonomian atau berbagai macam praktek-praktek lain yang sudah terkait

Prinsip-prinsip tentang dasar akuntansi tentunya berbeda-beda untuk setiap negara. Di Indonesia, badan atau lembaga yang sudah dirasa cukup diakui dan berpengalaman, tentunya berhak dan bertanggung jawab akan perubahan dan peraturan akuntansi yang berlaku di Indonesia adalah : Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).

ilustrasi prinsip akuntansi

Prinsip akuntansi yang sudah berlaku secara Umum (PABU) adalah sebagai berikut :

1. Prinsip Entitas

yaitu menjelaskan tentang konsep berbagai kesatuan usaha yang harus berdiri sendiri dan sudah terpisah dari satu usaha atau individu lain. Jadi, segala hal yang berhubungan dengan pencatatan akuntansi tentunya tidak diperkenankan dicampur adukkan dengan pencatatan usaha atau individu lain bahkan itu jika adalah pemiliknya sendiri.
Misalkan : Bank dan Aktiva tetap yang tercantum dalam neraca sehingga diakui sebagai asset perusahaan adalah bank atau aktiva tetap atas nama perusahaan sendiri.

2. Prinsip Satuan Moneter

Artinya adalah  hanya sekedar mencatat transaksi yang telah dinyatakan dalam mata uang. Mutu layanan pelanggan, prestasi pegawai dan lain-lain yang tidak bisa dinyatakan dalam mata uang (Non kuantitif) tidak dapat dilaporkan dalam bentuk laporan keuangan.

3. Prinsip Kurun Waktu

adalah penilaian dan pelaporan keuangan suatu perusahaan dibatasi hingga waktu tertentu . Ini dimaksudkan agar suatu informasi keuangan dapat dihasilkan tanpa harus menunggu ketika usaha yang dijalankan telah tutup.
Misalnya: Penyajian laporan keuangan secara periodik, bulanan, triwulan, semester atau tahunan.

4. Prinsip Biaya Historis

merupakan konsep yang mengharuskan penggunaan harga perolehan yang sesungguhnya dalam menilai harta atau jasa yang sudah dibelinya. Jika pada proses pembelian tawar-menawar terjadi, berarti yang dinilai yaitu pada harga kesepakatan. Terdapat berbagai cara yang digunakan dalam menilai suatu harta/jasa meliputi nilai buku, nilai pasar, nilai tunai, dan nilai ganti.

5. Prinsip Pengungkapan Lengkap

adalah penyajian laporan keuangan yang harus informatif (Relevan dan mudah untuk dipahami).

6. Prinsip Usaha Berterusan

Anggapan bahwa suatu entitas ekonomi berjalan berkesinambungan tanpa ada kejadian pembubaran kecuali jika terdapat peristiwa tertentu yang dapat menyangkalnya.

7. Prinsip Mempertemukan

Biaya dipertemukan dengan pendapatan karena terdapat adanya biaya yang sudah dimaksudkan. Konsep inilah yang akan menghasilkan nilai berupa penghasilan bersih selama periode tertentu. Konsep ini sudah diterapkan umumnya ketika akan membuat jurnal penyesuaian di mana akan ada pengakuan dan biaya yang sesungguhnya.

8. Prinsip Pengakuan Pendapatan :

adalah Pendapatan merupakan kenaikan harta karena telah terjadinya kegiatan usaha seperti penjualan, persewaan, penerimaan bagi hasil, dan lain sebagainya.

9. Prinsip Materialitas :

Materialitas berkaitan dengan dampak dari suatu item terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Prinsip ini yang memungkinkan akuntan untuk menggunakan pertimbangan profesionalnya dalam menentukan apakah suatu item tersebut termasuk material atau tidak.

Secara teori, suatu item akan dianggap sebagai material jika pencantuman atau pengabaian item tersebut sudah mempengaruhi atau mengubah penilaian dari seorang pengguna laporan keuangan.

10. Prinsip Konservatif :

Prinsip ini mengakui biaya yang mungkin akan terjadi tetapi tidak mengakui pendapatan yang belum terjadi. “Pesimistis bagi seorang akuntan”.

11. Prinsip Konsistensi

untuk prinsip ini transaksi yang sejenis haruslah dicatat dan dilaporkan dengan metode yang sama pada periode berikutnya. Kegunaan dari penerapan prinsip ini adalah agar laporan keuangan dapat diperbandingkan (memiliki daya banding tersendiri).

Hal ini tidak berarti bahwa metode tersebut tidak boleh diubah. Jika perubahan metode dilakukan, sifat pengaruh perubahan tersebut serta alasannya harus diungkapkan dalam catatan laporan keuangan pada periode terjadinya perubahan.

Prinsip-prinsip akuntansi ini seharusnya sudah terlihat dalam laporan keuangan, sehingga kualitas laporan keuangan belum dapat dipertanggungjawabkan dan digunakan seoptimal mungkin dalam hal pengambilan keputusan.

Untuk Informasi Lebih Lanjut mengenai Software Akuntansi EASY atau Download Gratis dan Demo Software Akuntansi EASY di Kantor Anda, Silahkan Menghubungi:

Novi Yanirahmawati

WhatsApp: 0838-771-77119

Email : marketing@easyaccountingsystem.co.id

1 reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.